Published
Nonfiksi - Motivasi
Ucapan Bahagia
Penulis
Dr. Tomi Yulianto, M.Pd, M.Kom
Sitti Nurmala Ely, S.Th
Penerbit
PT Ruang Literasi Digital
Tahun Terbit
2026
ISBN
978-634-05-2407-9
Jumlah Halaman
184 halaman
Harga
Rp 102.000
Abstrak
Ucapan Bahagia merupakan buku renungan Kristen yang membahas makna kebahagiaan sejati berdasarkan pengajaran Yesus dalam Matius 5:3–12. Buku ini menempatkan kebahagiaan bukan sebagai hasil pencapaian materi, status sosial, reputasi, atau validasi manusia, melainkan sebagai keadaan rohani yang lahir dari hidup yang dipulihkan, direndahkan, dan diarahkan kepada Allah. Ruang lingkup pembahasan mencakup kemiskinan rohani, dukacita yang membawa pertobatan, kelemahlembutan, lapar dan haus akan kebenaran, kemurahan hati, kesucian hati, panggilan membawa damai, serta kesetiaan di tengah penolakan dan penderitaan karena Kristus. Dengan pendekatan eksposisi Alkitab, refleksi teologis, analisis pastoral, dan penerapan praktis, buku ini bertujuan menolong pembaca memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kehidupan yang bebas dari pergumulan, tetapi dalam hubungan yang benar dengan Allah, pembentukan karakter Kristiani, dan pengharapan Kerajaan Allah.
Deskripsi
Dunia sering mengajarkan bahwa kebahagiaan ditemukan dalam keberhasilan, kenyamanan, pengakuan, kekayaan, dan citra diri yang tampak sempurna. Namun, dalam Khotbah di Bukit, Yesus membalikkan ukuran kebahagiaan tersebut. Ia menyebut berbahagia orang yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang suci hatinya, yang membawa damai, serta yang tetap setia meskipun harus menghadapi penolakan karena kebenaran.
Buku Ucapan Bahagia mengajak pembaca menelusuri makna Matius 5:3–12 secara reflektif dan aplikatif. Setiap bab membahas satu ucapan bahagia sebagai pintu masuk untuk memahami karakter warga Kerajaan Allah. Pembaca diajak melihat bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu hadir dalam bentuk hidup yang mudah, tetapi dalam hati yang bergantung pada anugerah, bertobat dengan tulus, hidup rendah hati, merindukan kebenaran, mengampuni, menjaga kemurnian hati, membawa damai, dan tetap setia kepada Kristus.
Melalui penjelasan teks, latar belakang, eksposisi, refleksi teologis, dan penerapan kehidupan, buku ini tidak hanya memberi pemahaman rohani, tetapi juga mengarahkan pembaca pada pertumbuhan iman yang nyata. Di dalamnya, pembaca akan menemukan bahwa kebahagiaan menurut Yesus bukan kebahagiaan yang rapuh dan bergantung pada keadaan, melainkan sukacita yang berakar pada Kerajaan Allah.
Buku ini sesuai bagi pembaca Kristen, pelayan gereja, pemimpin kelompok kecil, konselor pastoral, pendamping rohani, dan siapa pun yang merindukan penguatan iman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa yang reflektif dan pastoral, Ucapan Bahagia menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak dimulai dari apa yang manusia miliki, tetapi dari siapa yang memerintah di dalam hati: Allah yang penuh kasih, kebenaran, penghiburan, dan damai sejahtera.
Buku Ucapan Bahagia mengajak pembaca menelusuri makna Matius 5:3–12 secara reflektif dan aplikatif. Setiap bab membahas satu ucapan bahagia sebagai pintu masuk untuk memahami karakter warga Kerajaan Allah. Pembaca diajak melihat bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu hadir dalam bentuk hidup yang mudah, tetapi dalam hati yang bergantung pada anugerah, bertobat dengan tulus, hidup rendah hati, merindukan kebenaran, mengampuni, menjaga kemurnian hati, membawa damai, dan tetap setia kepada Kristus.
Melalui penjelasan teks, latar belakang, eksposisi, refleksi teologis, dan penerapan kehidupan, buku ini tidak hanya memberi pemahaman rohani, tetapi juga mengarahkan pembaca pada pertumbuhan iman yang nyata. Di dalamnya, pembaca akan menemukan bahwa kebahagiaan menurut Yesus bukan kebahagiaan yang rapuh dan bergantung pada keadaan, melainkan sukacita yang berakar pada Kerajaan Allah.
Buku ini sesuai bagi pembaca Kristen, pelayan gereja, pemimpin kelompok kecil, konselor pastoral, pendamping rohani, dan siapa pun yang merindukan penguatan iman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa yang reflektif dan pastoral, Ucapan Bahagia menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak dimulai dari apa yang manusia miliki, tetapi dari siapa yang memerintah di dalam hati: Allah yang penuh kasih, kebenaran, penghiburan, dan damai sejahtera.