Cover Buku
Published
Nonfiksi - Bunga Rampai
Pendidikan Teologi Di Tengah Disrupsi Digital:
Tantangan Gereja Dan Pendidikan Agama Kristen Pada Generasi Masa Kini
Penulis
Agustinus Dermawan
Andri Harvijanto
Cresensius Hanny Kurniawan
Eko Widiarto
Elisabet Widi
Yoseph Jatmiko Putra Sang Sabdo
Endah Christina
Irvan Nixon Grosman
Jean Paul Gotopo
Johannes Leiwakabessy
Juliana Sianturi
Junianto Linggupa
Lidia Susanti
Maria
Nur Budi Santosa
Serafim Leiwakabessy
Ruwi Hastuti
Rini Wulandari
Silwanus Gabriel
Sinta Kumala Sari
Supriadi
Hanny R. C. Lesnussa
Yudi Ferdinand Hutabarat
Tyson Jeidi Jeri Supit
Victor Christianto
Yahya Afandi
Yoell Ervandy
Andreas Sudjono
Yonatan Mujiono
Amir Hamzah
Penerbit
PT Ruang Literasi Digital
Tahun Terbit
2026
ISBN
978-634-05-6471-6
Jumlah Halaman
360 halaman
Harga
Rp 194.000
Abstrak
Pendidikan Teologi di Tengah Disrupsi Digital: Tantangan Gereja dan Pendidikan Agama Kristen pada Generasi Masa Kini merupakan buku referensi akademik berbentuk bunga rampai yang membahas transformasi pendidikan teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan pelayanan gereja dalam menghadapi perubahan budaya digital. Buku ini menempatkan teknologi bukan sekadar sebagai perangkat pendukung pembelajaran dan pelayanan, tetapi sebagai lingkungan baru yang memengaruhi pembentukan identitas, spiritualitas, otoritas pengetahuan, pola komunikasi, komunitas iman, serta cara generasi masa kini memahami kebenaran. Ruang lingkup pembahasan mencakup networked theology, pendidikan teologi adaptif dan digital integratif, formasi iman Generasi Z, pendidikan Kristen menuju Society 5.0, Shared Christian Praxis, continuous learning berbasis video digital, agnostisisme dan media sosial, missional living, pemuridan virtual melalui aplikasi mobile, pengaruh algoritma terhadap spiritualitas, doktrin Imago Dei dan krisis identitas digital, budaya post-truth, etika digital detox, kecerdasan artifisial dalam hermeneutika, AI Bounded Theology, literasi hermeneutis Pentakosta, penguatan identitas gerejawi, otoritas Alkitab, integrasi liturgis, dialog antar-denominasi, serta peran tradisi Pentakostal Karismatik dalam isu perdamaian. Dengan pendekatan teologis, pedagogis, interdisipliner, kontekstual, pastoral, dan reflektif, buku ini bertujuan memberikan kerangka pemikiran bagi gereja dan lembaga pendidikan Kristen agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab tanpa kehilangan kedalaman teologis, integritas iman, pembentukan karakter, serta orientasi pada kehidupan komunitas dan pelayanan.
Deskripsi
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia belajar, berkomunikasi, membangun identitas, memahami Kitab Suci, beribadah, serta menjalani kehidupan spiritual. Generasi masa kini hidup di tengah media sosial, kecerdasan artifisial, algoritma, video pendek, komunitas virtual, dan banjir informasi yang terus bergerak. Perubahan tersebut menghadirkan peluang besar bagi pendidikan dan pelayanan Kristen, tetapi sekaligus membawa tantangan baru terhadap otoritas kebenaran, kedalaman spiritualitas, integritas akademik, identitas diri, relasi komunitas, serta kemampuan membedakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Buku Pendidikan Teologi di Tengah Disrupsi Digital menghadirkan berbagai perspektif untuk membaca perubahan tersebut. Bagian awal buku membahas rekonstruksi pendidikan teologi melalui pendekatan networked theology, pendidikan yang adaptif, serta model pendidikan teologi digital integratif. Teknologi dipahami bukan sekadar sebagai alat untuk memindahkan kelas ke internet, tetapi sebagai bagian dari budaya yang mengubah komunitas, identitas, otoritas, spiritualitas, dan pola pelayanan. Karena itu, pendidikan teologi perlu memperbarui kurikulum, pedagogi, kompetensi digital, dan pembentukan calon pelayan tanpa melepaskan fondasi teologisnya.
Pembahasan kemudian diarahkan pada Generasi Z dan generasi digital. Buku ini menguraikan bagaimana media sosial, pola konsumsi informasi yang cepat, serta lingkungan digital membentuk cara generasi muda belajar dan menjalani iman. Pendidikan Kristen dituntut lebih kontekstual, dialogis, partisipatif, dan mampu menghubungkan pengetahuan teologis dengan pengalaman nyata. Beberapa bab menawarkan pendekatan konkret, seperti pengembangan ekosistem virtual, pembelajaran hibrida, Shared Christian Praxis, serta pemanfaatan video Reels sebagai bentuk microlearning dan continuous learning.
Aspek pembentukan iman mendapat perhatian yang cukup besar. Buku ini membahas kegiatan kerohanian di sekolah Kristen, missional living, komunitas kecil, pemuridan virtual, penggunaan aplikasi mobile untuk membangun kebiasaan membaca Alkitab, serta pentingnya relasi dan keteladanan dalam pembentukan karakter. Teknologi diposisikan sebagai sarana yang dapat memperluas proses pemuridan, sementara komunitas, mentoring, doa, pembacaan Kitab Suci, dan praktik pelayanan tetap menjadi fondasi pertumbuhan iman.
Isu yang lebih kritis muncul ketika buku membahas algoritma, kecerdasan artifisial, dan perubahan otoritas pengetahuan. Algoritma digital dapat memengaruhi jenis informasi yang diterima seseorang, sedangkan AI generatif mampu menghasilkan jawaban teologis secara cepat. Kondisi tersebut menimbulkan persoalan mengenai fragmentasi spiritualitas, cut and paste theology, ketergantungan teknologi, serta bergesernya otoritas dari gereja dan institusi pendidikan menuju mesin pencari, platform, dan sistem AI.
Dalam konteks tersebut, buku ini menawarkan sejumlah respons teologis. Doktrin Imago Dei digunakan untuk membaca krisis identitas Generasi Z yang hidup di tengah budaya visual dan validasi metrik. Prinsip hidup bijaksana dalam Matius 7:15–27 dibawa ke dalam persoalan budaya post-truth. Hukum Sabat dikaitkan dengan etika digital detox di tengah kehidupan yang terus terkoneksi. Septuaginta digunakan sebagai metafora untuk membahas penggunaan AI dalam hermeneutika, sementara konsep AI Bounded Theology menawarkan gagasan penggunaan AI yang dibatasi oleh korpus teologi tervalidasi dan pengawasan manusia.
Buku ini juga mengangkat persoalan literasi hermeneutis dalam konteks WhatsApp, TikTok, dan media digital. Pembaca diajak memahami bahwa kemudahan memperoleh konten Alkitab tidak selalu berarti meningkatnya kualitas penafsiran. Pendidikan teologi perlu membentuk kemampuan discernment, verifikasi sumber, pembacaan teks yang bertanggung jawab, serta kedewasaan dalam menggunakan teknologi agar informasi teologis tidak terlepas dari konteks, tradisi, dan komunitas iman.
Pada sisi lain, buku ini memperluas pembahasan dari ruang pendidikan menuju kehidupan gereja. Transformasi digital dikaitkan dengan liturgi, ibadah, identitas gerejawi, otoritas epistemik, dan kehidupan komunitas. Gereja didorong untuk tidak sekadar memindahkan aktivitas ke platform digital, tetapi menilai bagaimana teknologi memengaruhi pengalaman ibadah, hubungan antaranggota, pemuridan, dan pembentukan identitas Kristen.
Beberapa bab juga membawa pembaca keluar dari persoalan digital yang bersifat teknis menuju isu yang lebih luas. Pembahasan mengenai teologi dari periferi, people-to-people church pilgrimage, dialog antar-denominasi, serta peran Pentakostal Karismatik dalam mengupayakan perdamaian Israel-Palestina memperlihatkan bahwa pendidikan teologi tetap berhubungan dengan persoalan sosial, ekumenis, keadilan, perdamaian, dan kesaksian publik gereja.
Melalui 23 bab yang ditulis oleh berbagai kontributor, buku ini memperlihatkan bahwa disrupsi digital tidak dapat dijawab hanya dengan menambah aplikasi, platform, atau kecakapan teknis. Tantangan utama justru terletak pada kemampuan gereja dan lembaga pendidikan Kristen menjaga keseimbangan antara inovasi dan kedalaman, keterbukaan dan discernment, teknologi dan relasi, kecepatan informasi dan refleksi, serta adaptasi budaya dengan kesetiaan terhadap fondasi iman.
Buku ini sesuai bagi mahasiswa teologi, dosen, guru Pendidikan Agama Kristen, pendeta, pemimpin gereja, pelayan Tuhan, pengelola sekolah dan sekolah tinggi teologi, peneliti, pembina generasi muda, serta pembaca yang ingin memahami hubungan antara iman Kristen, pendidikan, gereja, dan perkembangan teknologi digital. Melalui perspektif yang beragam, buku ini dapat menjadi bahan refleksi sekaligus rujukan bagi pengembangan pendidikan teologi dan pelayanan gereja yang tetap berakar pada iman, tetapi mampu membaca perubahan zaman secara kritis, kontekstual, dan bertanggung jawab.
Buku Pendidikan Teologi di Tengah Disrupsi Digital menghadirkan berbagai perspektif untuk membaca perubahan tersebut. Bagian awal buku membahas rekonstruksi pendidikan teologi melalui pendekatan networked theology, pendidikan yang adaptif, serta model pendidikan teologi digital integratif. Teknologi dipahami bukan sekadar sebagai alat untuk memindahkan kelas ke internet, tetapi sebagai bagian dari budaya yang mengubah komunitas, identitas, otoritas, spiritualitas, dan pola pelayanan. Karena itu, pendidikan teologi perlu memperbarui kurikulum, pedagogi, kompetensi digital, dan pembentukan calon pelayan tanpa melepaskan fondasi teologisnya.
Pembahasan kemudian diarahkan pada Generasi Z dan generasi digital. Buku ini menguraikan bagaimana media sosial, pola konsumsi informasi yang cepat, serta lingkungan digital membentuk cara generasi muda belajar dan menjalani iman. Pendidikan Kristen dituntut lebih kontekstual, dialogis, partisipatif, dan mampu menghubungkan pengetahuan teologis dengan pengalaman nyata. Beberapa bab menawarkan pendekatan konkret, seperti pengembangan ekosistem virtual, pembelajaran hibrida, Shared Christian Praxis, serta pemanfaatan video Reels sebagai bentuk microlearning dan continuous learning.
Aspek pembentukan iman mendapat perhatian yang cukup besar. Buku ini membahas kegiatan kerohanian di sekolah Kristen, missional living, komunitas kecil, pemuridan virtual, penggunaan aplikasi mobile untuk membangun kebiasaan membaca Alkitab, serta pentingnya relasi dan keteladanan dalam pembentukan karakter. Teknologi diposisikan sebagai sarana yang dapat memperluas proses pemuridan, sementara komunitas, mentoring, doa, pembacaan Kitab Suci, dan praktik pelayanan tetap menjadi fondasi pertumbuhan iman.
Isu yang lebih kritis muncul ketika buku membahas algoritma, kecerdasan artifisial, dan perubahan otoritas pengetahuan. Algoritma digital dapat memengaruhi jenis informasi yang diterima seseorang, sedangkan AI generatif mampu menghasilkan jawaban teologis secara cepat. Kondisi tersebut menimbulkan persoalan mengenai fragmentasi spiritualitas, cut and paste theology, ketergantungan teknologi, serta bergesernya otoritas dari gereja dan institusi pendidikan menuju mesin pencari, platform, dan sistem AI.
Dalam konteks tersebut, buku ini menawarkan sejumlah respons teologis. Doktrin Imago Dei digunakan untuk membaca krisis identitas Generasi Z yang hidup di tengah budaya visual dan validasi metrik. Prinsip hidup bijaksana dalam Matius 7:15–27 dibawa ke dalam persoalan budaya post-truth. Hukum Sabat dikaitkan dengan etika digital detox di tengah kehidupan yang terus terkoneksi. Septuaginta digunakan sebagai metafora untuk membahas penggunaan AI dalam hermeneutika, sementara konsep AI Bounded Theology menawarkan gagasan penggunaan AI yang dibatasi oleh korpus teologi tervalidasi dan pengawasan manusia.
Buku ini juga mengangkat persoalan literasi hermeneutis dalam konteks WhatsApp, TikTok, dan media digital. Pembaca diajak memahami bahwa kemudahan memperoleh konten Alkitab tidak selalu berarti meningkatnya kualitas penafsiran. Pendidikan teologi perlu membentuk kemampuan discernment, verifikasi sumber, pembacaan teks yang bertanggung jawab, serta kedewasaan dalam menggunakan teknologi agar informasi teologis tidak terlepas dari konteks, tradisi, dan komunitas iman.
Pada sisi lain, buku ini memperluas pembahasan dari ruang pendidikan menuju kehidupan gereja. Transformasi digital dikaitkan dengan liturgi, ibadah, identitas gerejawi, otoritas epistemik, dan kehidupan komunitas. Gereja didorong untuk tidak sekadar memindahkan aktivitas ke platform digital, tetapi menilai bagaimana teknologi memengaruhi pengalaman ibadah, hubungan antaranggota, pemuridan, dan pembentukan identitas Kristen.
Beberapa bab juga membawa pembaca keluar dari persoalan digital yang bersifat teknis menuju isu yang lebih luas. Pembahasan mengenai teologi dari periferi, people-to-people church pilgrimage, dialog antar-denominasi, serta peran Pentakostal Karismatik dalam mengupayakan perdamaian Israel-Palestina memperlihatkan bahwa pendidikan teologi tetap berhubungan dengan persoalan sosial, ekumenis, keadilan, perdamaian, dan kesaksian publik gereja.
Melalui 23 bab yang ditulis oleh berbagai kontributor, buku ini memperlihatkan bahwa disrupsi digital tidak dapat dijawab hanya dengan menambah aplikasi, platform, atau kecakapan teknis. Tantangan utama justru terletak pada kemampuan gereja dan lembaga pendidikan Kristen menjaga keseimbangan antara inovasi dan kedalaman, keterbukaan dan discernment, teknologi dan relasi, kecepatan informasi dan refleksi, serta adaptasi budaya dengan kesetiaan terhadap fondasi iman.
Buku ini sesuai bagi mahasiswa teologi, dosen, guru Pendidikan Agama Kristen, pendeta, pemimpin gereja, pelayan Tuhan, pengelola sekolah dan sekolah tinggi teologi, peneliti, pembina generasi muda, serta pembaca yang ingin memahami hubungan antara iman Kristen, pendidikan, gereja, dan perkembangan teknologi digital. Melalui perspektif yang beragam, buku ini dapat menjadi bahan refleksi sekaligus rujukan bagi pengembangan pendidikan teologi dan pelayanan gereja yang tetap berakar pada iman, tetapi mampu membaca perubahan zaman secara kritis, kontekstual, dan bertanggung jawab.